Aneh tapi nyata. Sebuah perasaan ternyata dapat tumbuh tanpa adanya pertemuan antara dua pasang mata. Istilah "dari mata turun ke hati...

Aneh tapi nyata. Sebuah perasaan ternyata dapat tumbuh tanpa adanya pertemuan antara dua pasang mata. Istilah "dari mata turun ke hati" rasanya tidak berlaku bagi "kita".


Aku dengannya ternyata memiliki perasaan yang sama. Entah dimulai dari kapan, tapi yang terpenting adalah aku sudah menemukan jawaban. Selama ini kukira kita berdua bagaikan langit dan bumi, jauh sekali, tentu aku sebagai bumi bukan langit. Lagi-lagi ternyata, selama ini bukan hanya aku yang mengamati, dia juga.


Lega rasanya, senang tentunya mengetahui bahwa bukan hanya aku yang memiliki rasa. Bukan rasa yang pernah ada, melainkan rasa yang sedang dirasakan. Ajaib, hati yang kukira mati, ternyata bisa tumbuh kembali. Hari-hari yang kukira akan sepi, ternyata bisa ramai kembali. Berkirim pesan dengannya kini menjadi aktivitas yang aku nantikan.


Kuketik tulisan ini ketika aku sedang membayangkan, bagaimana nanti jika suatu saat akhirnya kedua pasang mata ini bertemu. Canggung kah? kuharap tidak.


Kuharap, ketika kita bertemu nanti tidak ada rasa penyesalan dari dirinya. Mungkin, bisa jadi menyesal karena rupaku yang tidak secantik di media sosial. Atau, isi otakku yang ternyata tidak sesuai ekspektasi. Jadi kepikiran, kapan kita ketemuan?


Aku bingung mulai darimana. Memulai untuk membuka percakapan. Bukan percakapan, melainkan sebuah tulisan yang entah maksud tujuannya akan di...

Aku bingung mulai darimana. Memulai untuk membuka percakapan. Bukan percakapan, melainkan sebuah tulisan yang entah maksud tujuannya akan dipahami atau tidak.


Hai, bolehkah aku berkenalan terlebih dahulu? Karena yang aku tahu sejauh ini hanyalah tulisan yang menjembatani adanya percakapan diantara kita, tidak pernah diawali dengan perkenalan.


Aku Azizah. Aku tidak menyebutkan nama lengkap, karena sebutan “Azizah” menjadi nama sebutan yang sangat aku sukai sejak adanya tulisan-tulisan itu. Tulisan dengan kata-kata yang dirangkai sangat indah. Orang yang membacanya pasti akan memiliki pemahaman bahwa Azizah itu adalah sosok perempuan yang hebat. Perempuan hebat yang bisa meluluhkan hati dingin seorang “Aku”.


Aku Azizah. Lagi-lagi kusebut nama “Azizah”. Betapa bangganya aku memiliki nama itu. Nama yang membuatku sedikit lebih dekat dengan seorang “Aku”. Sebenarnya, aku tidak tahu perihal ini dapat disebut dengan pendekatan atau tidak. Namun, yang kudengar kabar pendekatan ini tersebar. 


Banyak kabar balik yang kudengar. Satu yang paling kuingat, katanya aku adalah perempuan yang akan dilamarnya. Tentu kabar ini hanyalah kabar burung. Aku dengannya sampai saat ini hanya seperti tokoh fiksi dalam sebuah tulisan. Hanya seorang tokoh fiksi bukan nonfiksi. 


Aku menjadi penasaran. Akankah kabar burung tersebut benar berasal dari mulut seorang “Aku” atau hanya sekedar kabar burung yang membuatku kegirangan. Bagaimana tidak kegirangan, “Aku” adalah seorang laki-laki berwajah tampan dan dikenal cerdas. Ia banyak dikagumi oleh kaum hawa. Tentu aku menjadi kegirangan dengan adanya kabar burung itu. Seolah-olah aku lah yang dipilihnya dari banyaknya kaum hawa cantik diluar sana.


Berawal dari penasaran, membuatku berpikir akan sebuah kepastian. Tentu kepastian ini bisa menjadi jawaban atas penasaranku selama ini. Lalu, pertanyaannya, wajarkah aku mengharapkan sebuah kepastian?